<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://ruslieli.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruslieli.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Oct 2009 10:32:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ruslieli.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ruslieli.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ruslieli.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KEMARAU LAGI</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/10/21/kemarau-lagi/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/10/21/kemarau-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 10:32:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen : Eli Rusli Kemarau lagi. Perasaan baru kemarin, musim kemarau. Hutan terbakar, petani kekeringan, dan warga desa mulai  kekurangan air. Mungkin, bencana kekeringan ini sudah dianggap siklus tahunan yang dianggap biasa. Aparat desa hanya bisa memberi peringatan akan terjadinya kemarau, tanpa bisa memberikan cara mengatasinya. Mereka hanya berteriak-teriak, warga desa sudah bosan mendengarnya. Dulu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=89&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerpen : Eli Rusli</strong></p>
<p>Kemarau lagi. Perasaan baru kemarin, musim kemarau. Hutan terbakar, petani kekeringan, dan warga desa mulai  kekurangan air. Mungkin, bencana kekeringan ini sudah dianggap siklus tahunan yang dianggap biasa. Aparat desa hanya bisa memberi peringatan akan terjadinya kemarau, tanpa bisa memberikan cara mengatasinya. Mereka hanya berteriak-teriak, warga desa sudah bosan mendengarnya.</p>
<p>Dulu, ketika aku masih bersekolah di sekolah dasar, kemarau bukanlah musim yang menakutkan. Aku dan teman-teman sepermainan bisa bermain layangan sepuasnya. Air tetap mengalir walaupun tidak sebesar musim penghujan, tetapi cukup untuk mengairi sawah. Kalaupun terjadi kemarau panjang, air bisa digilir bergantian. Pun demikian, apabila sumur-sumur kering, penduduk desa bisa bebas mandi dan mencuci di sungai yang mengalir lewat desaku. Airnya bersih tidak bercampur dengan limbah-limbah pabrik seperti sekarang ini.</p>
<p>Entah salah siapa yang membuat desaku seperti sekarang ini. Sawah-sawah berubah menjadi pabrik-pabrik yang mengeluarkan asap beracun sisa pembakaran. Sungai yang dulu biasa dipakai berenang, menjadi kehitam-hitaman bercampur air limbah. Hutan semakin bergeser mendekati puncak bukit-bukit yang sudah gundul. Burung-burung dan binatang hutan semakin langka. Katak sudah tidak mau bernyanyi lagi di sawah. Sumber-sumber air menguap. Kotoran sapi sudah tidak kuhirup lagi baunya. Aroma pedesaan hilang, digilas keringat para buruh, deru kendaraan, warung-warung kecil, pedagang keliling, <em>mini market, </em>dan menjamurnya perumahan-perumahan dengan beragam tipe. Debu-debu berterbangan sepanjang hari, menempel tebal di daun-daun, ranting-ranting, genting rumah, dan halaman rumah.</p>
<p>Aku masih ingat, waktu itu kepala desa beserta aparatnya memaksa warga untuk menjual tanahnya kepada orang-orang yang mereka sebut sebagai <em>investor</em>, yang akan memajukan desa kami. Dengan menebarkan angin surga, mereka menjanjikan jalan-jalan yang mulus, kesempatan kerja bagi warga desa, sampai kesejahteraan warga desa. Dengan kepongahan ilmu yang mereka dapat di luar negeri, mereka sangat yakin, bahwa dengan berdirinya bangunan-bangunan pabrik warga desa tidak akan ketinggalan jaman dan pasti hidup sejahtera.</p>
<p>Sebenarnya banyak warga desa yang tidak setuju. Tetapi karena takut dicap sebagai orang yang anti pembangunan sebagian dari mereka merelakan tanahnya untuk dijual. Hanya ayahku dan sebagian kecil warga desa lainnya yang tidak setuju. Sejak itulah bangunan-bangunan pabrik mulai berdiri, jalan-jalan di aspal, sedangkan sawah ayahku yang hanya tinggal enam petak terperangkap di antara gedung-gedung pabrik tersebut.</p>
<p>Dua tahun setelah diresmikannya bangunan pabrik oleh pejabat yang terhormat, warga desa sudah mulai merasakan kesulitan, air bersih berkurang, mau mandi di sungai, airnya sudah mulai berubah warna. Jalan-jalan yang dibanggakan mulai berlubang karena semakin banyak kendaraan, apabila hujan beceknya minta ampun, sebaliknya jika musim kemarau  debunya menyesakkan tenggorokan. Hawa panas mulai akrab dengan kehidupan warga desa. Sawah ayahku hanya mengandalkan air hujan yang belum tentu ada. Untuk menghidupi keluarga ayah hanya berjualan kecil-kecilan, kadang menjadi kuli bangunan di kota.</p>
<p>Kalau ayah mau, sebenarnya ayah bisa menjual enam petak sawah miliknya. Namun itu tidak dilakukannya. Ayah selalu bilang “Kita ini turunan petani. Tanah ini adalah milik kita para petani. Tanah ini adalah warisan dari nenek moyang kita. Mereka berjuang untuk mempertahankan tanah ini. Mengapa sekarang harus dinikmati orang lain.” Aku tidak mengerti pikiran ayah. Padahal apabila tanah ini dijual ayah akan mendapatkan uang yang banyak dan cukup untuk membeli rumah di tempat lain. Tapi itulah ayahku. Keras kepala dan teguh kepada pendiriannya.</p>
<p>Sekarang setelah ayah meninggal aku baru menyadari bahwa semua perkataan yang diucapkannya benar. Kemarau yang baru datang beberapa hari, telah sangat menyengsarakan warga desa. Air bersih yang dulu begitu mudah di dapat sekarang harus dibayar dengan sebagian upah yang didapat sebagai buruh pabrik.  Warga desa yang dulu hidup rukun, gotong royong menjadi lebih mementingkan diri sendiri. Gara-gara hal kecil bisa terjadi keributan. Warga desa menjadi terkotak-kotak. Bahkan sebagian tersingkir oleh para pendatang. Warga desa yang dijanjikan pekerjaan dan kemakmuran oleh para <em>investor,</em> hanya dijadikan buruh pabrik rendahan. Virus kemiskinan semakin mengerogoti kepala-kepala yang semakin tidak berdaya.</p>
<p>Aku masih terus menatap dasar sawah yang mulai retak-retak. Bulir-bulir padi yang kosong masih bersatu dengan batang-batang padi yang mengering kekuningan. Sebagai pewaris tunggal atas sawah ayahku, ada kebimbangan yang terus mengikutiku. Aku bingung, apakah harus menjual sawah warisan ayahku atau mempertahankannya. Kepala desa dan konco-konconya terus mendatangiku setelah kematian ayah. Mereka berani menawarkan harga selangit untuk enam petak sawah yang sekarang menjadi milikku. Ketika hendak mengatakan “ya” untuk dijual, bayang-bayang ayah selalu muncul di depanku.</p>
<p>Sebagian warga desa yang dulu sepaham dengan ayahku mulai goyah. Karena hasil panen yang kurang bagus dan sering kesulitan air mereka menjual sawah-sawah miliknya. Mereka beralih profesi menjadi pedagang. Mereka juga mengajakku untuk bergabung. Tetapi aku masih terus menghindar dengan seribu alasan. Kini aku sedang berpikir, bagaimana aku menemukan jawaban yang tidak akan melukai almarhum ayah. Semakin kusisir sawah yang kering ini, semakin kuat bayangan ayah hadir dihadapanku.</p>
<p>Kemarau yang datang lagi, tidak hanya menghadirkan kekeringan sawah peninggalan leluhurku, tapi telah menghadirkan kekeringan jiwa yang melanda warga desa. Hati nurani tertutup oleh keinginan untuk memiliki yang lebih banyak. Persaingan antar warga desa tidak hanya sebatas mendapatkan air saja. Warga desa sudah mulai berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan, langganan, kekayaan untuk kelangsungan hidup keluarga dan konco-konconya. Telinga sudah tidak lagi mendengar jeritan lapar tetangganya. Lebih baik isi rumah berisi barang-barang mewah, daripada harus memberi kepada tetangganya. Semakin banyak barang mewah dan berharga semakin tinggi kedudukan seorang warga desa. Mesjid yang dulu ramai, perlahan mulai sepi ditinggal umatnya.</p>
<p>Aku mendekati tembok beton yang membatasi antara sawahku dengan bangunan pabrik. Tembok itu kekar, berdiri di bekas pematang dan saluran air. Masih terbayang bagaimana air mengalir perlahan mengairi sawah, menumbuhkan padi-padi. Ular sawah berenang mengejar mangsanya, seekor katak.  “Dor…” Sebuah suara mengagetkan lamunanku. Tiba-tiba dadaku terasa sakit. Darah mengalir dari sisi kanan dadaku. Mata berkunang-kunang. Hawa dingin menjalar kesekujur tubuhku. Aku terjatuh di atas dasar sawah yang retak-retak, dikelilingi butir-butir padi yang kekeringan. Samar-samar aku mendengar suara. “Kena Bang! Kena!” “Cepat bawa ke sini!” Pandanganku semakin gelap. Cahaya matahari seakan mau hilang dari pandanganku.</p>
<p><strong>Cikampek, Agustus’09</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=89&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/10/21/kemarau-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/11/maaf-cintaku-11/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/11/maaf-cintaku-11/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 03:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Dua belas Hari ke sembilan Ramadhan, ba’da shubuh, aku masih di mesjid. Aku mendengarkan ceramah Kang Totong yang pagi itu kebagian ceramah. Jam setengah enam lebih tujuh menit aku ditepuk Kang Mamat. Ia menunjuk-nunjuk keluar. Di luar Tata melambaikan tangan, isyarat agar aku segera keluar. Rasa heran mengiringiku. “Ada apa? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=86&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Bagian Dua belas</em></strong></p>
<p>Hari ke sembilan Ramadhan, ba’da shubuh, aku masih di mesjid. Aku mendengarkan ceramah Kang Totong yang pagi itu kebagian ceramah. Jam setengah enam lebih tujuh menit aku ditepuk Kang Mamat. Ia menunjuk-nunjuk keluar. Di luar Tata melambaikan tangan, isyarat agar aku segera keluar. Rasa heran mengiringiku. “Ada apa? Tumben pagi-pagi, nongol di sini?”  Tata diam sejenak. “Jangan kaget! Kemarim malam, ba’da magrib Maya meninggal dunia.” Aku tak percaya. Rasanya baru kemarin aku mengenal dia. “Sudahlah pulang! Ganti baju! Aku tunggu disini!” Tata mendorong badanku pelan. Aku setengah berlari pulang ke kontrakan.</p>
<p>Kijang yang dikemudikan Agus melaju kencang menuju arah Cibiru. Jalan-jalan di Kota Bandung tampak sepi. Air bekas hujan semalam masih membekas di setiap sudut kota. Suara penceramah terdengar jelas dari setiap mesjid yang kami lewati. Suasana Ramadhan begitu terasa pagi ini.</p>
<p>Di perjalanan kami banyak diam. Ketika aku bertanya penyebab kematian Maya, Tata dan Agus tidak bisa menjawab. Tata hanya mengetahui kematian Maya lewat Tien yang meneleponnya sehabis subuh. Tien hanya mengatakan Maya meninggal kemarin malam.</p>
<p>Tidak sampai setengah jam kami sudah sampai di Cibiru. Kendaraan roda dua dan roda empat sudah banyak di parkir di depan rumah dan sekitarnya. Susana sangat ramai dengan yang melayat. Kami masuk ke rumah bercat putih, milik neneknya Maya. Adik Maya menyambut dengan tangisan. Jenazah Maya ditutupi kain <em>samping</em> berwarna coklat, dikelilingi ibu-ibu yang sedang membaca Surat Ya’sin.</p>
<p>Tien sudah ada di sini. Dia sedang berbicara dengan perempuan berkerudung hitam, yang tak lain ibunya Maya. Kami mendekati dan menyalaminya. Tangisan ibunya Maya kembali terdengar. Ibunya Maya hanya mengatakan, selepas buka puasa, Maya mengeluh sakit perut, lalu dibawa ke rumah sakit dan meninggal disana. Ibunya kembali menangis.</p>
<p>“Boleh Kami melihat wajah Maya untuk terakhir kalinya, Bu?” Suaraku memecah tangisan. Ibunya Maya hanya mengangguk, lalu kembali menangis. Aku raih <em>samping </em>coklat bagian atas. Kutarik sedikit. Wajah Maya putih kebiru-biruan. Matanya terpejam untuk selama-lamanya. Tien meraung keras. Tangannya menutupi wajahnya. Airmata membanjiri wajahnya. Setelah aku berdoa, lalu kututup kembali <em>samping</em> coklat itu.</p>
<p>Ibu-ibu berhenti mengaji. Jenazah Maya akan segera dimandikan. Aku, Tata, dan Agus segera keluar. Kami duduk di kursi plastik, di bawah pohon jambu. Tidak ada yang berkata-kata.</p>
<p>Setelah jenazah selesai dikafani. Kami masuk sebentar, berdoa, lalu pamitan pulang. Pagi ini kami harus kuliah. Sinar matahari pagi menerobos di sela-sela kabut tipis.***</p>
<p>Maya sudah meninggal dunia. Beritanya cepat menyebar di kampus. Semua orang kaget, tidak menyangka Maya akan meninggal di usia yang masih muda. Tapi itulah takdir. Kalau Sang Pencipta sudah memutuskan, tidak ada seorangpun yang dapat menggagalkannya.</p>
<p>Tapi aku masih penasaran dengan penyebab kematiannya. Cerita miring tentang kematian Maya beredar. Maya meninggal karena sedang hamil. Mungkin malu, dia meminum racun dan meninggal di rumah sakit. Kebenaran berita itu masih aku ragukan. Kalau hamil. Mengapa tidak ada yang bertanggung jawab?  Cerita ibunya Maya di rumah neneknya masih aku percayai.</p>
<p>Hanya ada beberapa hal yang sangat aku herankan. Semenjak peristiwa di perpustakaan itu, Maya memang menghindariku. Perubahan besar begitu jelas tergambar dalam dirinya. Wajahnya dipoles bedak berlebihan, bibir merah mencolok, dan aksesories yang biasanya tidak ada mulai menghiasi tubuhnya.</p>
<p>Satu hal lagi, Maya sering berjalan gonta ganti pasangan. Hari ini sama A, besok sama B, besoknya lagi sama C. Bahkan didepanku dibuat semesra mungkin. Mungkin karena itulah orang berbicara miring setelah kematiannya.</p>
<p>Perasaan bersalah kembali hadir dalam diriku. Jangan-jangan perubahan Maya gara-gara aku. Maya yang aku kenal jauh berbeda dengan Maya yang kukenal sebelum peristiwa di perpustakaan.</p>
<p>Tapi, mudah-mudahan dugaanku salah. Orang berubah juga bisa karena pergaulan yang salah. Setiap orang punya pilihan. Dan masing-masing pilihan terdapat resikonya. Aku hanya berharap Maya meninggal karena suatu hal yang wajar, bukan sesuatu yang negatif. Kematian Maya hanya Tuhan, Maya, dan orang-orang yang dipercayainya yang tahu.</p>
<p>Kubaca sekali lagi tulisan yang ada di buku agenda coklatku. Aku berdoa semoga amal ibadah Maya diterima disisi-Nya. Kututup buku agendaku. Malam semakin gelap, angin terus menggoyang pepohonan, awan hitam menggulung. Tampaknya hujan akan segera turun.</p>
<p><strong>TAMAT. April 2009</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=86&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/11/maaf-cintaku-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/01/maaf-cintaku-10/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/01/maaf-cintaku-10/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 07:35:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian : Sebelas Berita penolakanku terhadap Maya terbawa angin, cepat berhembus ke berbagai penjuru, terutama kepada teman seangkatan. Berbagai komentar terus bermunculan. Aku bak aktor pemula yang langsung melejit ke papan atas. Dimana ada aku, akan ada pertanyaan yang sama menghampiriku. Aku bagai pesakitan. Semua memojokanku. Kata-kata munafik, tidak punya perasaan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=83&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Bagian : Sebelas</em></strong></p>
<p>Berita penolakanku terhadap Maya terbawa angin, cepat berhembus ke berbagai penjuru, terutama kepada teman seangkatan. Berbagai komentar terus bermunculan. Aku bak aktor pemula yang langsung melejit ke papan atas. Dimana ada aku, akan ada pertanyaan yang sama menghampiriku.</p>
<p>Aku bagai pesakitan. Semua memojokanku. Kata-kata munafik, tidak punya perasaan, raja tega, terus menghantamku. Apalagi dari teman-teman dekat Maya. Aku hanya diam saja. Hatiku bimbang. Tiba-tiba rasa bersalah menghantuiku. Tien, Yuyun, Euis mulai berubah sikap padaku.</p>
<p>Mengapa harus aku yang salah? Aku menolak cinta seorang perempuan karena aku mempunyai tanggung jawab kepada tuhan dan orangtuaku. Aku hanya ingin mewujudkan harapan kedua orangtua yang telah berkorban segalanya buatku. Aku hanya ingin menjadi orang yang berbakti. Salahkah itu?</p>
<p>Aku memang sering mengikuti kemanapun Maya pergi, tapi tidak pernah berdua, aku selalu pergi bersama-sama. Aku berkeliling Kota Bandung bukan karena Maya. Aku hanya ingin mengetahui seluk beluk Kota Bandung yang sesungguhnya. Walaupun perasaan cinta itu kadang-kadang muncul, aku selalu membuangnya jauh-jauh.</p>
<p>Aku hanya heran, mengapa semua orang selalu menyalahkanku. Berdosakah aku menolak cinta seorang perempuan. Tentu saja tidak. Keyakinanku melarang untuk pacaran. Pacaran sama saja dengan mendekati zina. Mengapa aku harus yang disalahkan. Dunia benar-benar tidak adil padaku.</p>
<p>Untuk menenangkan hati, aku pulang kampung seminggu. Aku mencoba berdiskusi dengan teman-teman mainku. Aku banyak berdoa dan minta didoakan kedua orangtuaku. Sampai akhirnya semangatku bangkit dan aku mulai menapaki Kota Bandung kembali.</p>
<p>Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Yang lalu harus kujadikan pelajaran agar aku bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. Niatku sudah bulat, pacaran <em>no,</em> kuliah <em>yes.</em>***</p>
<p>Waktu berlalu secepat aku bersahabat dengan hawa dingin di Kota Bandung. Dua semester telah kulalui. Menginjak semester tiga ini aku berpisah dengan Tata, Agus, Maya, Euis, dan Tien. Mereka mengambil program studi yang berbeda denganku.</p>
<p>Perpisahan ini banyak sekali membawa perubahan dalam kehidupanku. Semakin jauh dengan Maya semakin cepat aku bisa melupakan masa-masa terdahulu. Sayap-sayapku mulai mengepak ke masa depan. Sesekali aku bertemu dengan mereka, tetapi tidak seakrab dulu. Aku mulai menemukan teman baru yang senasib denganku.</p>
<p>Tata masih berteman dekat denganku. Kami sering bertemu di acara himpunan mahasiswa atau bermain sepakbola. Sedangkan dengan Agus, aku mulai sedikit menjauh. Agus mulai suka minum minuman keras sejak berteman dengan Hadi. Sesekali diiringi dengan nonton <em>blue film</em>. Aku pernah sekali ikut dan menyaksikan mereka mabuk, sejak itu aku tidak pernah ikut mereka, dengan alasan sakit.</p>
<p>Tien dan Maya satu program studi. Kemana-mana mereka selalu berdua. Kami jarang bertemu. Walaupun bertemu, Maya tidak pernah banyak bicara, dari isyarat tubuhnya dia selalu ingin menghindariku. Tien masih seperti dulu, genit, centil, dan selalu menggodaku.</p>
<p>Allah Maha Pengasih, setiap jiwa manusia dikasihiNya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan kesenangan atau sebaliknya dengan kesusahan. Dibalik semua itu ada hikmahnya, tergantung kita menjalaninya. Begitupun denganku.</p>
<p>Aku mendapatkan karunia yang tidak terhingga. Kabar baik datang dari kedua kakakku. Kakak yang pertama lolos seleksi PNS, sedangkan kakak yang kedua diterima bekerja di perusahaan swasta di Jakarta. Ini berarti akan sedikit mengurangi beban kedua orangtuaku.</p>
<p>Aku tidak henti-hentinya bersyukur. Tekadku semakin kuat untuk segera menyelesaikan kuliahku. Orang-orang yang dulu menentangku untuk kuliah berbalik seratus delapan puluh derajat mendukungku.***</p>
<p>Kamis malam. Aku baru saja berbuka puasa. Bulan purnama memancarkan cahayanya yang terang benderang ke segala penjuru Kota Bandung. Serombongan awan sesekali menutup cahaya sang bulan. Namun disapu sang angin malam menuju ke arah utara.</p>
<p>Jalan Geger Kalong begitu ramai malam ini. Selain pedagang kaki lima yang berderet di pinggir jalan berduyun-duyun orang menuju <em>Daarut Tauhid</em>. Tukang becak dan supir angkutan kota <em>keyor</em> juga ketiban rejeki. Mereka bolak balik mengantar jemaah <em>Daarut Tauhid</em> yang akan menghadiri pengajian setiap Kamis malam.</p>
<p>Aku ke Geger Kalong bukan untuk mengikuti pengajian, tetapi akan menemui temanku di kontrakannya. Aku menyusuri kampus dan keluar di depan SD Isola. Mataku menyaksikan keramaian yang ada.</p>
<p>Tiba-tiba, mataku tertuju pada sesosok tubuh perempuan berbaju <em>pink</em>, bercelana <em>jeans</em>, dan memakai sepatu <em>cats</em>. Ku amati semua bagi tubuhnya. Rasa-rasanya aku kenal perempuan ini. Dalam keremangan cahaya bulan aku bisa memastikan, sesosok tubuh perempuan itu adalah Maya. Dia berjalan sendirian.</p>
<p>“May! Dari mana?” Aku menyapa. Maya setengah kaget, lalu menatapku. “Mau tau aja urusan orang,” jawabnya ketus. Aku tidak melanjutkan bertanya. Mulutku mendadak terkunci. Wajahnya yang putih berbalut bedak tertimpa cahaya bulan. Kedua matanya lebam seperti habis menangis. Aku mencoba lagi bertanya. “Dari mana May? Malam-malam sendirian?” “Bukan urusanmu Tau!!” Maya nyelonong pergi.</p>
<p>Tidak seperti biasanya dia pulang malam-malam sendiri. Rambutnya sedikit kusut dan matanya seperti habis menangis. Waktu kutanya, dia kelihatan kaget. Pikirannya seperti tidak karuan.</p>
<p>Kuantar langkahnya dengan mataku. Tubuhnya menghilang di antara kerumunan angkutan kota <em>keyor </em>yang parkir di mulut Jalan Geger Kalong. Aku menyebrang jalan, lalu memasuki sebuah gang kecil.</p>
<p><em>Bersambung… </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=83&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/01/maaf-cintaku-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/01/maaf-cintaku-9/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/01/maaf-cintaku-9/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 05:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Sepuluh Aku masih ingat pesan ibuku sebelum ke Bandung “Hati-hatilah dengan perempuan” Ibuku sadar atau hanya ikut-ikutan Zaenudin MZ. Baginya perempuan sanggup meruntuhkan kejantanan laki-laki. Hitler, Napoleon, Alexander Yang Agung jatuh gara-gara perempuan. Firaun yang mengaku tuhan, menjilat ludah sendiri ketika istrinya meminta bayi Musa di rawat di istananya. Ibuku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=81&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Bagian Sepuluh</em></strong></p>
<p>Aku masih ingat pesan ibuku sebelum ke Bandung “Hati-hatilah dengan perempuan” Ibuku sadar atau hanya ikut-ikutan Zaenudin MZ. Baginya perempuan sanggup meruntuhkan kejantanan laki-laki. Hitler, Napoleon, Alexander Yang Agung jatuh gara-gara perempuan. Firaun yang mengaku tuhan, menjilat ludah sendiri ketika istrinya meminta bayi Musa di rawat di istananya.</p>
<p>Ibuku sangat mengerti bahwa aku mungkin akan rapuh bila berhadapan dengan perempuan. Walaupun pada kenyataanya tidak semua perempuan dapat meruntuhkan kaum lelaki, malah sebaliknya, Ayahku bisa bertahan hidup setelah di PHK juga karena dorongan ibu. Soeharto bisa berkuasa sampai sekarang ini juga tidak lepas dari peran istrinya. Maksud ibuku mungkin untuk saat ini aku harus konsentrasi kuliah dan tidak usah bergaul terlalu dekat dulu dengan perempuan. Aku memahaminya.</p>
<p>Ayahku tak kalah garang. Sedikit bicara tapi bermakna. “Jangan pernah meninggalkan shalat. Kalau bisa awal waktu dan di mesjid.” Shalat tidak hanya sekedar gerakan tubuh. Tapi bisa mencegah perbutan keji dan munkar. Aku paham betul maknanya dan sangat…sangat merasakannya. Kehidupan Kota Bandung yang menawarkan warna warni kesenangan dunia mampu kuredam dengan mengingat Allah setiap lima kali sehari.</p>
<p>Setan-setan cinta yang gentayangan di kamarku, memaksaku untuk menerima cinta seorang wanita tertahan oleh pesan tegas ayah ibuku. Bayangan keduanya hadir dari balik tembok kamarku.</p>
<p>Bisikan hati kecilku mengalir ke atas kepala dan membersihkan pikiranku dari bayang-bayang Maya. Aku harus segera memberi keputusan dengan akal sehatku. Dan aku sudah bulat untuk tidak menerimanya.***</p>
<p>Perpustakaan institut menjadi tujuanku. Bak <em>Cowboy</em> dalam film amerika yang penuh percaya diri masuk ke bar, aku masuk ke perpustakaan. Di lantai dua tidak banyak mahasiswa yang rajin membaca. Meja yang terisi hanya oleh mahasiswa yang mengerjakan tugas dan mencari bahan skripsi. Sebagian lagi berisik, bicara gosip terbaru. Buku-buku hanya dibiarkan tertidur nyenyak di  meja. Mungkin mereka tidak bisa membaca. Di tembok dan sebagian rak tertulis “DILARANG RIBUT DALAM RUANGAN.”</p>
<p>Perpustakaan institut adalah perpustakaan besar. Terdiri dari empat lantai. Namun sayang buku-bukunya kurang lengkap. Dan lebih disayangkan lagi mahasiswanya kurang peduli. Mereka lebih enak nongkrong di Pentagon, Garnadi, PKM, Isola, dan Himpunan Mahasiswa. Mahasiswa yang rajin ke perpustakaan kebanyakan mahasiswa tingkat akhir dan sedang menyelesaikan skripsinya. Itu berarti yang hadir di sini kebanyakan karena tuntutan. Bukan karena keikhlasan. Wajar saja bila mahasiswa kita jarang menerbitkan karya-karya ilmiah mereka.</p>
<p>Lantai tiga. Itulah yang kutuju. Di ruangan ini buku tidak boleh dipinjam. Hanya untuk referensi saja. Ruangan ini tidak terlalu ramai. Kecuali di bagian utara. Mahasiswa yang lagi nyontek skripsi luber di sana. Aku duduk di pojok, di dekat rak buku-buku lama. Sengaja kusediakan satu kursi di depanku.</p>
<p>Hari ini hari yang bersejarah dalam hidupku. Di luar cuaca cerah. Langit biru. Awan putih diusir angin menuju arah Gunung Tangkuban Perahu. Aku menunggu seorang wanita yang selama ini membuat hatiku tidak karuan. Jam menunjukkan angka sepuluh lewat lima menit. Artinya dia telah telat lima menit. Aku sabar menunggu. Agenda coklat kuletakkan tepat didepanku.</p>
<p>Jarum pendek dan panjang menunjuk angka sepuluh. Maya datang, berbaju kemeja putih, celana jin. Manis sekali. Wajahnya berseri seindah hari ini. Dia duduk tepat di depanku. “Hai! Ada apa?” Penasaran menyelimuti hatinya. Mungkin dia heran tidak seperti biasanya aku mengajak bicara berdua. Seumur hidup aku baru dua kali mengajak perempuan untuk berbicara langsung denganku. Yang pertama, ketika SMA. Aku mengajak seorang teman perempuanku makan bakso di depan bioskop kota kelahiranku. Yang kedua, ya ini, di sini. Di perpustakaan institut tempatku menimba ilmu.</p>
<p>“Aku ingin kamu jujur. Benarkah ini tulisanmu?” Aku menyodorkan agenda coklat. “Ya. Itu memang tulisanku.” Mukanya merah. Semakin cantik saja aku melihatnya. Dengan malu-malu ia meneruskan. “Waktu itu, aku tidak tahu kamu pulang. Aku dan Tata pergi ke kontrakanmu. Aku menulis di agenda ini.” Maya berhenti sejenak. “Tata aku sogok dengan semangkuk bakso, agar tidak mengatakannya padamu.” Maya tersenyum kecil. Wajahnya semakin merah. Keringat kecil mengucur pelan di dahinya. Pantas saja mahkluk bernama Tata bungkam. Dia bagaikan Rambo, seorang veteran perang Vietnam yang lebih memilih disiksa daripada memberitahukan kawan-kawannya. Aku! Tersiksa lahir bathin. Menjadi korban yang sempurna.</p>
<p>“May! Aku mengambil napas panjang. “Aku mengerti. Kamu mencintaiku. Aku juga mengerti bahwa kamu benar-benar tulus mencintaiku.” Aku bicara persis Dayang Sumbi menasehati Sangkuriang. “Aku sadar. Aku hanyalah orang biasa. Yang tak mungkin bisa mewujudkan cita-citamu. Untuk sekarang ini. Aku hanya ingin fokus pada kuliahku. Aku hanya ingin mewujudkan mimpi kedua orang tuaku.” Bibirku bergetar. “Aku mungkin mencintaimu. Tapi bukan untuk saat ini. Biarlah takdir yang bicara nanti.” Tanganku tegang. “Cinta tidak harus selalu memiliki. Aku hanya ingin kita bersahabat seperti teman-teman kita yang lain.” Dadaku berdebar kencang. Baru kali ini aku mengucapkan kata-kata romantis semanis madu dan terdengar pahit sepahit racun.</p>
<p>Maya diam membatu. Matanya merah. Air mata mengalir di pipi kanan kirinya. Dia tak bicara sepatah katapun. Hening sejenak. Hanya angin kecil yang berlalu di depan kami berdua. Keheningan berlanjut. Maya tetap diam. Detik berikutnya. Maya bangkit dari kursi dan pergi meninggalkanku. Aku tidak berusaha mencegahnya. Kubiarkan dia pergi. Setan-setan cinta di sekelilingku marah. “Bodoh, munafik, kejam, tidak berperasaan.” Mungkin itu kata mereka. Tapi hati putih ibuku kembali mengusir mereka. Setan-setan cinta itu takut dan terus menjauh dariku.</p>
<p>Pahit. Memang pahit. Tapi itu harus kuucapkan. Hatiku terasa plong. Tenang. Beban yang selama ini aku simpan, sudah kutumpahkan semua. Walaupun mungkin bagi Maya terasa menyesakkan. Aku hanya berdoa, mudahan-mudahan hal ini menjadi kebaikan bagi kami berdua.</p>
<p><em>Bersambung…</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=81&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/09/01/maaf-cintaku-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/19/maaf-cintaku-8/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/19/maaf-cintaku-8/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 08:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Sembilan Kurebahkan badanku di kasur busa tipis warisan Bang Ali. Suara emas Fatur Java Jive dari polytron tua ikut menemaniku. “Inikah gerangan cinta yang menghiasi setiap manusia…. Sepanjang masa……” Aku terhanyut dalam lagu itu. Aku mulai merasakan getaran-getaran aneh dalam hatiku. Apakah aku sudah jatuh cinta? Wajah Maya terbayang jelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=78&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Bagian Sembilan</em></strong></p>
<p>Kurebahkan badanku di kasur busa tipis warisan Bang Ali. Suara emas Fatur Java Jive dari <em>polytron </em>tua ikut menemaniku. <em>“Inikah gerangan cinta yang menghiasi setiap manusia…. Sepanjang masa……”</em> Aku terhanyut dalam lagu itu. Aku mulai merasakan getaran-getaran aneh dalam hatiku. Apakah aku sudah jatuh cinta? Wajah Maya terbayang jelas ketika bersamaku belakangan ini. Wajah yang penuh ketulusan.</p>
<p>Tidak. Aku tidak boleh jatuh cinta. Aku datang ke Bandung bukan untuk mencari seorang wanita. Aku bukan pangeran kaya raya yang mencari cinta sejati di tengah-tengah sekian  banyak putri raja yang hanya menginginkan hartanya. Aku hanyalah seorang anak mantan karyawan swasta yang ingin mencari ilmu untuk meraih harapan dan merubah masa depan. Jadi aku tidak boleh jatuh cinta</p>
<p>Cinta memang abstrak, tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui bentuknya. Cinta hanya bisa ditunjukan dengan prilaku dan ucapan setiap manusia. Dan cinta bukan berarti terpautnya hati sorang lelaki dan wanita. Cinta maha luas. Cinta kepada tuhan, cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara. Itu juga cinta. Cinta tidak berarti harus memiliki.</p>
<p>Cinta pertamaku hanya untuk kedua orang tua. Mereka yang memelihara aku, dari mulai bayi hingga besar sekarang ini. Pengorbanan mereka padaku adalah sebagai bukti cinta yang sesungguhnya. Dan aku tidak mungkin bisa membalas pengorbanan mereka. Aku hanya bisa membalas mereka dengan kuliah yang rajin, selesai tepat waktu, dan nilai yang baik tentunya. Cintaku pada seorang perempuan mungkin harus dikesampingkan terlebih dahulu.</p>
<p>Aku tidak mau terjebak dalam cinta semu atau cinta buta. Cinta yang hanya mengikuti hawa nafsu saja. Cinta yang diwujudkan dalam bentuk pacaran. Cinta yang melanda anak-anak muda jaman sekarang. Mereka mau melakukan apa saja untuk pasangannya. Bahkan mengorbankan harga diri sekalipun. Dan itu bertentangan dengan keyakinanku.</p>
<p>Suatu malam. Tepatnya malam Minggu. Aku baru pulang dari rumah Agus. Ketika akan membuka pagar rumah kontrakan, aku melihat dua bayangan manusia yang lagi di mabuk cinta. Di rumah kontrakan belakang, di lantai dua, seorang mahasiswa sedang mencium bibir sorang mahasiswi berkerudung. Saking asyiknya mereka tidak menyadari kehadiranku. Tiba-tiba kerudung mahasiswi itu dibuka. Aku melongo.Bayangan mereka hilang di balik pintu kamar. Berikutnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya bisa mengelus dada dan mengucap <em>astagfirullahaladziim.</em></p>
<p>Seorang mahasiswa yang bergabung dengan organisasi mahasiswa yang berlabel islam sering berduaan di sekretariatannya. Ketua umumnya mempunyai pacar yang kebetulan seniorku. Ironis. Sungguh ironis. Dimana nilai keislamannya.</p>
<p>Yang lebih parah lagi, sepasang siswa SMU bercengkrama di tangga menuju mesjid Al Furqan, padahal azdan sedang berkumandang. Cinta kepada sesama manusia telah mengalahkan cinta kepada tuhan. Maka wajar apabila salah satu stasiun radio memberitakan bahwa sebagian remaja di Kota Bandung pernah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Artinya sebagian wanita di Bandung sudah tidak perawan lagi. Itulah cinta yang aku takutkan. Lebih baik menghindari sebelum terjadi</p>
<p>Cinta tidak mengenal warna, kedudukan, keyakinan, maupun kasta. Cinta bisa melekat ke semua orang. Termasuk aku. Bayang-bayang Maya dan kedua orang tuaku datang silih berganti.Aku tidak ingin membuat semuanya kecewa. Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.***</p>
<p>Yusuf adalah putra Nabi Ya’kub , yang juga merupakan keturunan bapak para nabi, Ibrahim. Sejak kecil Yusuf sudah ditunjuk Allah SWT untuk menjadi nabi. Hal ini ditunjukan dengan mimpinya melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan yang  sujud kepadanya.</p>
<p>Karena tanda-tanda itulah Ya’kub begitu mencintainya, sehingga membuat iri saudara-saudaranya. Dan atas ijin Allah Yusuf tidak jadi dibunuh, dia hanya dimasukkan ke dalam dasar sumur dan dipungut oleh beberapa orang musafir kemudian dijual kepada seorang Raja Mesir yang bernama Qithfir.</p>
<p>Yusuf tumbuh menjadi pria yang tampan dan berbudi luhur.  Zulaikha, istri Raja Mesir mencoba menggoda Yusuf untuk berbuat kemaksiatan, namun atas pertolongan Allah, Yusuf berhasil menghindarinya. Keimanan Yusuf telah menyelamatkannya dari kehinaan dan kekejian.</p>
<p>Yusuf harus di penjara, meskipun dia tidak bersalah, namun dia telah membuktikan bahwa cinta kepada Allah lebih baik dari pada cinta kepada nafsu sesaat. Dan pada akhirnya membawa kebahagian di dunia dan akhirat.</p>
<p>Kisah Yusuf dia atas membuat aku sadar bahwa cinta kepada manusia tidak lebih baik daripada kepada Sang Pencipta. Dan cinta kepada perempuan untuk sekarang ini, bagiku hanya akan membawa kehinaan, walaupun mungkin di depan manusia akan menjadi suatu kebanggaan.</p>
<p>Kisah Yusuf ini seharusnya menjadi pelajaran tidak hanya bagiku, tapi bagi setiap insan manusia di dunia ini baik laki-laki ataupun perempuan. Yusuf memberi pelajaran agar kita tidak mendekati zina dan dapat terhindar dari kehinaan. Andai semua manusia bisa menahan diri dari nafsu syahwat yang begitu tinggi tidak akan mungkin timbul kasus aborsi, <em>married by accident,</em> sek bebas, dan pacaran yang menjamur di jaman sekarang ini.</p>
<p>Aku semakin yakin sekarang, kemana jalan yang aku pilih. Aku harus dapat membunuh rasa cinta yang kadang timbul secara tiba-tiba.</p>
<p><em>Bersambung…</em><em> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=78&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/19/maaf-cintaku-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/13/maaf-cintaku-7/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/13/maaf-cintaku-7/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 10:07:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Delapan Aku memang baru sebatas menduga kalau Maya mencintaiku. Tapi dugaanku semakin mendekati kebenaran ketika aku berbicara dengan Tien sahabatnya. Tien, perempuan centil dan genit. Tubuhnya kurus, tingginya lebih pendek dari Maya. Baju dan celana yang dipakai Tien selalu ketat. Bila ia mengangkat tangannya akan terlihat pusar yang menempel di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=76&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p><strong><em>Bagian Delapan</em></strong></p>
<p>Aku memang baru sebatas menduga kalau Maya mencintaiku. Tapi dugaanku semakin mendekati kebenaran ketika aku berbicara dengan Tien sahabatnya.</p>
<p>Tien, perempuan centil dan genit. Tubuhnya kurus, tingginya lebih pendek dari Maya. Baju dan celana yang dipakai Tien selalu ketat. Bila ia mengangkat tangannya akan terlihat pusar yang menempel di perut putihnya. Lucunya, jika Tien turun dari angkutan kota, dia akan menarik-narik baju bagian belakangnya agar bagian dalam pantatnya tidak kelihatan. Tetapi sehebat apapun Tien menarik baju bagian belakangnya, celana dalamnya tetap kelihatan juga.</p>
<p>Tien pertama kali memelukku, ketika pulang bermain sepakbola. Bahkan untuk membuat mukaku merah padam, dia akan melakukannya di depan teman-temanku. Sikapku yang kaku dan grogi menjadi bahan tertawaan teman-temanku.</p>
<p>Pagi itu aku duduk di bawah pohon rindang depan kampus. Hawa segar merasuki tubuhku, mengusir udara kotor yang sejak tadi malam mengikutiku. Hembusan napasku membentuk asap kecil, lalu menghilang ditelan cahaya matahari.</p>
<p>Tien datang. Lalu duduk di samping kiriku. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku. “San! Apakah Kamu tidak merasakan perubahan yang terjadi dengan sahabatku?” “Maksudmu, Maya?” “Ya…! Siapa lagi kalau bukan Maya?” Aku menarik napas panjang.</p>
<p>Tien meneruskan ucapannya. “San! Maya itu senang sama Kamu….Maksudku dia mencintaimu.” Wajahku memerah. Hawa tiba-tiba serasa panas. “Kamu tahu! Dia menantimu.” Tien melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku diam tidak menjawab. “Kamu ingat! Ketika pulang main sepakbola. Kita sengaja memberi kesempatan kepada kalian untuk bicara. Tapi kamu malah acuh.” Tien kembali bicara “San! Kamu seharusnya senang. Banyak cowok yang suka sama dia. Tapi dia memilih kamu.” Aku tetap diam. “Kesempatan masih panjang, San! Pikirkan itu!” Tien mengakhiri pembicaraannya. Aku tetap diam.</p>
<p>Maya datang, kemudian menyusul Tata. Semakin siang kampus semakin ramai. Tien mengerlingkan matanya. Lalu kami masuk ke ruang kuliah.</p>
<p>Matahari semakin tinggi. Teka teki semakin jelas terjawab. Tapi aku tetap ingin membuktikannya sendiri. Aku hanya butuh kepastian walaupun dalam hatiku tersimpan jawaban tidak.***</p>
<p><strong> </strong>Sebelum jam tiga sore, kami sudah berkumpul di rumah Agus. Rencananya hari ini aku dan teman-temanku akan pergi ke Lembang, kota kecil di kaki Gunung Tangkuban Perahu. Kami sengaja berangkat sebelum jam tiga sore, agar tidak terjebak kemacetan yang biasa terjadi setiap malam Minggu.</p>
<p>Agus duduk di depan sebagai supir. Di sampingnya duduk Dina pacarnya. Di tengah Tien, Maya, dan Yuyun. Sedangkan aku, Tata, Dede, dan Herman di belakang.</p>
<p>Kijang yang kami tumpangi perlahan-lahan menyusuri Jalan Setiabudhi atas. Hawa dingin mulai menyergap. Jalan nanjak dan berbelok. Rumah-rumah penduduk, hotel, warung, pohon-pohon seperti bergerak. Sesekali terlihat orang berjualan kelinci.</p>
<p>Semakin ke atas udara semakin dingin. Penjual sayur dan buah-buahan berbaris rapih di tepi jalan. Di kejauhan tampak Gunung Tangkuban Perahu berdiri dengan angkuhnya. Tanah disekitarnya tampak hijau yang menandakan kesuburan.</p>
<p>Di sela-sela hijaunya perkebunan, berdiri rumah mewah atau mungkin juga vila dengan warna yang mencolok. Hal inilah yang ditakutkan oleh para pemerhati lingkungan. Semakin berkurang area hijau, maka beberapa tahun yang akan datang Kota Bandung akan kekurangan air, udara yang sejuk akan semakin berkurang. Tapi apa mau dikata anjing menggonggong kafilah berlalu, pembangunan rumah atau vila masih tampak terlihat.</p>
<p>Memasuki Kota Lembang, suasana semakin ramai. Berbagai jenis makanan tersedia di warung-warung pinggir jalan. Mobil-mobil mulai memenuhi badan jalan dan halaman parkir.</p>
<p>Jalan menuju arah Jayagiri dipenuhi oleh orang-orang membawa ransel. Tujuannya bisa ke Situ Lembang atau mendaki ke Gunung Tangkuban Perahu. Biasanya mereka menginap semalam dan pulang keesokan harinya, setelah puas menikmati pemandangan kawasan Lembang dan Gunung Tangkuban Perahu.</p>
<p>Mobil kami parkir di salah satu kedai susu murni. Selain susu murni kedai ini juga menyediakan colenak, jagung bakar, ketan bakar, roti bakar, <em>yogurt</em>, bandrek, bajigur, dan banyak lagi. Kedai ini terbuat dari bambu. Dari sini kami bisa melihat dengan jelas pemandangan di sekitar Gunung Tangkuban Perahu.</p>
<p>Aku duduk di bangku paling pojok. Di depanku duduk Tien, Maya dan Yuyun. Aku hanya memesan ketan bakar dan susu coklat. Sejauh mata memandang ke arah Gunung Tangkuban Perahu, aku tidak bisa berhenti untuk mengucapkan kagum. Betapa indah dan megahnya karya cipta Illahi. Udara yang segar dan pemandangan yang indah mampu menyejukkan tubuh dan pikiranku.</p>
<p>“San! Kamu senang di sini?” Maya membuyarkan fantasiku. “Ya. Tentu saja. Aku senang dapat menikmati hasil karya Illahi yang begitu sempurna dan mengagumkan. Aku bersyukur bisa berada di sini.” “Pastilah. Apalagi kalau bersama pacar.” Tien menimpali. Aku memandang Tien tajam. Dia tersenyum kecil.</p>
<p>“Kamu pernah punya pacar?” Maya kembali bertanya. Aku diam sejenak. “Belum. Cuma kalau dekat sama perempuan pernah. Tapi tidak sampai pacaran.” “Yang bener…?” Tien menggodaku. “Ya… Emang gitu.” Aku tertawa kecil.</p>
<p>“Kalau ada cewek yang senang ama kamu, gimana?” “Ga, tahu,” jawabku acuh. “Akhir-akhir ini kamu merasakan sesuatu yang beda ga?” Maya kembali bertanya. “Yang aneee…h. Apa ya…?” Mukaku mulai merah. Tapi pura-pura tidak tahu. “Jujurlah San! Kalau ada cewek yang senang ama Kamu, mau ga?” Tien menyudutkanku. “Aku pikir dululah. Aku kan belum lama tinggal di Bandung. Kalau sudah waktunya aku pasti bisa jawab,” kataku diplomatis. Maya memandangku. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Aku hanya mengambil napas panjang. Mataku memandang Gunung Tangkuban Perahu yang mulai diselimuti kegelapan.</p>
<p><em>Bersambung…</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=76&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/13/maaf-cintaku-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/13/maaf-cintaku-6/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/13/maaf-cintaku-6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 10:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Tujuh Hari hampir memasuki waktu zuhur. Hari ini aku malas kuliah. Sambil menunggu kuliah kedua aku duduk di koridor mesjid Al Furqan sebelah selatan. Sebentar lagi teman-temanku juga pasti ke sini. Lima menit menjelang adzan duhur, datanglah Tata dan rombongannya. “Kita ada tugas San. Cuma aku ga catat. Jadi pinjam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=73&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p><strong><em>Bagian Tujuh</em></strong></p>
<p>Hari hampir memasuki waktu zuhur. Hari ini aku malas kuliah. Sambil menunggu kuliah kedua aku duduk di koridor mesjid Al Furqan sebelah selatan. Sebentar lagi teman-temanku juga pasti ke sini.</p>
<p>Lima menit menjelang adzan duhur, datanglah Tata dan rombongannya. “Kita ada tugas San. Cuma aku ga catat. Jadi pinjam bukunya si Maya.” Tata menyodorkan sebuah buku.</p>
<p>Buku kampus bergambar <em>Hello Kitty</em> diserahkannya padaku. Di halaman pertama tertulis nama pemilik buku. MAYA RAHMAWATI. Begitu membuka lembar kedua, baru aku sadar. Tulisan tegak bersambung itu sama dengan tulisan di buku agenda. Aku terdiam. “Ada apa San?” Tata menepuk punggungku. Aku diam terpaku. Tanganku secepat angin membuka lembar demi lembar buku kampus itu. Aku tidak membacanya. Aku hanya melihat tulisannya saja.</p>
<p>Di kamar aku bandingkan dua buku di atas meja kecil. Yang satu buku agenda warna coklat milikku, satunya lagi buku <em>Hello Kitty</em> milik Maya Rahmawati. Aku meneliti dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya Bentuk tulisannya sama bagai pinang dibelah dua.</p>
<p>Benarkah Maya datang ke sini? Dengan siapa? Dengan Tata tidak mungkin. Dia bilang tidak kesini. Atau dia berbohong. Sudahlah yang penting aku sudah mendapat jawaban. Pantas saja akhir-akhir ini dia bersikap aneh padaku. Tapi aku tidak boleh <em>ge er</em> dulu.***</p>
<p>Namanya Maya, lengkapnya Maya Rahmati, wajahnya berseri, kulitnya putih, tinggi, badannya padat berisi, senyumnya ramah, mampu mengguncang hati setiap lelaki di kampus ini, apalagi buaya-buaya kampus yang lebih dulu ada disini, termasuk buaya tengik yang skripsinya tidak pernah selesai.</p>
<p>Aku tidak pernah menyangka, Maya bisa tertarik padaku. Atau ini hanya prasangkaku saja. Maya anak orang kaya, bapaknya kerja di salah satu BUMN terkenal di negeri ini. Ibunya seorang pengajar di salah satu sekolah menengah di Bandung. Namun keduanya memutuskan berpisah, Karena bapaknya menikah lagi dengan seorang karyawan bank swasta.</p>
<p>Maya mempunyai dua orang adik. Yang perempuan masih sekolah di SMU, sedangkan yang laki-laki masih di sekolah dasar. Aku pernah dikenalkan pada adik perempuannya, ketika menjemput Maya ke kampus. Wajahnya mirip pinang di belah dua.</p>
<p>Maya sebenarnya termasuk mahasiswa cerdas, terutama dalam mata kuliah hapalan. Dia tidak segan bertanya kepada siapapun kalau tidak mengerti. Jadi wajar saja bila dia mendapatkan nilai bagus dalam mata kuliah teori. Maya juga termasuk mahasiswa yang jarang tidak masuk, kehadirannya di bangku kuliah hampir 100%.</p>
<p>Umur Maya hampir 19 tahun. Sebagai remaja yang tumbuh di Kota Bandung, dia termasuk remaja gaul. Hampir tidak pernah ketinggalan informasi terkini. Dari mulai <em>fashion</em>, lagu, film, gaya hidup, buku, dan gosip-gosip artis nasional maupun internasional.</p>
<p>Walupun dia termasuk golongan orang kaya, Maya tidak pernah menampakkan kekayaannya. Pulang pergi kuliah dia selalu menggunakan angkutan kota. Pakaian rapih dibalut rompi, rambut dibando, sepatu <em>cats</em>, dan selalu mamakai celana panjang.</p>
<p>Makanan kesukaannya karedok, yaitu sayur-sayuran mentah yang dikasih bumbu kacang. Minumnya es jeruk. Dia biasa nongkrong di kantin kampus miliknya Pak Mardi, penjaga kampus yang berusia 40 tahunan.</p>
<p>Aku kadang heran. Mengapa Maya mau kuliah di keguruan dan pendidikan? Dengan modal bapaknya yang kaya, dia bisa kuliah dimanapun dia suka. Sudah bukan rahasia kalau orang menganggap tempatku menimba ilmu sekarang ini adalah perguruan tinggi negeri nomor tiga di Bandung, setelah dua perguruan tinggi negeri lainnya. Mahasiswanya kebanyakan dari daerah dan rata-rata dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Apa dia mau jadi guru? Guru di negeri ini tidak dihargai sebagaimana profesi-profesi yang lain. Guru hanya dijadikan simbol pahlawan tanpa jasa saja.</p>
<p>Tapi aku bisa menebak. Maya kuliah di sini pasti atas dorongan ibunya yang seorang guru. Walaupun gaji guru sedikit dan sering dilupakan murid-muridnya, guru adalalah profesi yang mulia. Guru telah melahirkan orang-orang terbaik di negeri ini. Satu ilmu akan terus memberikan pahala kepada orang yang pertama kali memberikannya. Dan mungkin itulah alasan Maya kuliah di perguruan tinggi ini.</p>
<p><em>Bersambung…. </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=73&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/13/maaf-cintaku-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/06/maaf-cintaku-5/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/06/maaf-cintaku-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 08:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Enam Aku baru pulang kampung, hujan menyambutku di terminal Cicaheum. Angin kencang dan petir menyertai perjalananku. Untunglah di Terminal Ledeng hujan berhenti. Kuturuni lima anak tangga, lalu berhenti sejenak di mesjid untuk shalat magrib dan isya. Suasana jalan sepi, hanya terdengar tetesan air sisa hujan tadi. Rumah-rumah kontrakan yang aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=71&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p><strong><em>Bagian Enam</em></strong></p>
<p>Aku baru pulang kampung, hujan menyambutku di terminal Cicaheum. Angin kencang dan petir menyertai perjalananku. Untunglah di Terminal Ledeng hujan berhenti. Kuturuni lima anak tangga, lalu berhenti sejenak di mesjid untuk shalat magrib dan isya.</p>
<p>Suasana jalan sepi, hanya terdengar tetesan air sisa hujan tadi. Rumah-rumah kontrakan yang aku lewati hening. Tidak terdengar tawa canda yang biasanya aku dengar. Aku berjalan menghindari kubangan air. Aroma nasi goreng menusuk hidung, perutpun bergejolak minta diisi. Tukang nasi goreng begitu sibuk, suara gas memecah kesunyian. Aku terus berjalan, tak menghiraukan jeritan perutku.</p>
<p>Setelah melewati tanjakan seribu, aku baru sampai di kontrakan. Gantungan kunci bergambar orang shalat aku raih, dan terbukalah pintu kamar. Bau kasur tidak dijemur langsung menyerang. Aku batuk sebentar. Lalu duduk.</p>
<p>Aku makan timbel buatan ibu. Tubuh yang dingin perlahan mulai hangat. Perutpun diam. Mataku tertuju pada buku agenda warna coklat yang tergeletak di meja kecil. Seingatku, waktu mau pulang kampung buku itu berbaris rapi dengan buku-buku lainnya. Siapa yang masuk kemari? Kutemukan catatan kecil dalam lembaran buku agenda warna coklat itu, <em>“Sayang tadi aku ke sini. Tapi kamu tidak ada. Aku hanya mau bilang. Aku mencintai kamu”</em> Hanya itu bunyi empat baris tulisan tangan dengan ballpoint hitam. Aku termenung. Siapa yang menulis ini? Siapa yang memasuki kamarku? Tulisannya mirip tulisan seorang perempuan, rapi dengan huruf tegak bersambung. Aku baca sekali lagi. Dan bertanya lagi. Baca lagi dan bertanya lagi. Siapa yang menulis ini?</p>
<p>Aku tidak pernah membawa kunci kamar bila pulang kampung. Kunci selalu kugantungkan di gang kecil menuju kamar. Dan yang tahu hanya Tata teman baruku. Jangan-jangan Tata kemari, tetapi dengan siapa?</p>
<p>Hari semakin malam. Hawa dingin memelukku. Aku penasaran dan tidak bisa tidur. Siapa yang menulis seperti itu? Hari sepertinya lambat dan hari esok tidak mau segera hadir dalam hidupku.***</p>
<p>Jam tujuh kurang dua puluh menit aku sudah berada di kampus. Aku menunggu mahluk yang bernama Tata. Mahluk berambut lurus, berbadan ceking. “Tumben Ente duluan!” Tata menyapa. Aku sudah tidak sabar. “Ente kemarin ke kontrakanku tidak?” “Ngapain?” “Bener tidak?” “Ya! Sumpah! Aku tidak ke tempatmu!” Tata mengelak. Dosen datang. Aku tidak lagi bertanya.</p>
<p>Kuliah dimulai. Aku tidak bisa konsentrasi. Pikiranku ada di buku agenda. Kuliah hari ini memang terasa membosankan. Dosen mirip pembina upacara. Ceramah kesana kemari  Dosen ke kanan, aku ke kiri atau sebaliknya. Benar-benar menyebalkan.</p>
<p>Diam-diam seseorang memperhatikanku. Seakan mengerti rasa gelisah yang sedang aku rasakan. Dialah gadis yang duduk di sampingku. Dia tersenyum, akupun membalas. Senyumnya tidak mampu menghilangkan rasa gelisahku.</p>
<p>Kuliah selesai. Aku segera beranjak dari kursi. Tata mengikuti dari belakang. “Ada apa sih San? Dari tadi kaya yang gelisah amat?” “Ta! Ente benar kemarin tidak ke kontrakanku ?” Aku mengulangi pertanyaan tadi pagi. “Tidak. Aku tidak kemana-mana. Bukannya Ente mudik?” Tata balik bertanya. “Emang ada apa? Kaya yang serius banget?” “Ga… Ga ada apa-apa.” “Apa Ente kehilangan sesuatu di kontrakan?” tanya Tata lagi. “Gak mungkin ada maling ke kamar mu, San. Di sana kan gak ada apa-apa.” Tata meledekku. Aku diam. Lalu tulisan siapa itu?</p>
<p>Hari ini memang hari yang mengecewakan. Aku tidak bisa menemukan jawaban yang kuharapkan.***</p>
<p>Siang itu panas sekali. Sebagian awan hitam mulai menyelimuti Bumi Siliwangi. Kelihatannya hujan akan turun. Sambil membawa tas kecil berisi celana pendek dan sepatu bola aku terus berjalan ke arah belakang kampus. Rencananya hari ini akan bermain bola dengan jurusan lain.</p>
<p>Teman-temanku sudah berkumpul di pinggir lapangan. Lapangan sepakbola kampus memang tidak seperti lapangan sepakbola. Tanahnya tidak rata. Apalagi kalau sehabis hujan mirip kubangan badak. Tetapi kalau sedang kering, lapangan bisa mengeluarkan debu yang tersapu angin. Garis pinggir lapangan tidak ada. Namun pemain dan wasit sudah mengerti, apabila bola melewati tanah yang dikeruk sedikit mirip saluran air, artinya bola telah meninggalkan lapangan. Rumput tidak tumbuh di lapangan, rumput hanya tumbuh di pinggir lapangan. Gawangnya dari besi tanpa jala, sehingga kalau terjadi gol bola bisa langsung ke tempat sampah yang ada di belakangnya. Anehnya lagi kami sebagai mahasiswa tidak bisa bermain sepakbola setiap saat, sebab sering disewakan oleh satpam kampus yang uangnya entah masuk kemana. Mahasiswa bisa ribut dengan satpam hanya karena lapangan sepakbola.</p>
<p>Dari lapangan sepakbola ini aku dapat menyaksikan sebagian Kota Bandung sebelah barat. Daerah Sukajadi, Pasteur, Cimahi, Pajajaran, Ciroyom bisa terlihat walaupun kecil sekali. Tetapi apabila malam dan cuaca cerah aku dapat melihat kerlap kerlip lampu-lampu kota. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Bandara Husein Sastranegara sangat jelas terlihat dari <em>take off</em> dan <em>landing</em> pesawat terbang.</p>
<p>Selain kami para lelaki yang akan bermain bola. Tampak juga Tien, Maya, Euis, Nunung, dan Yuyun. Kelihatanya mereka tidak pulang terlebih dahulu. Pakaian yang dikenakan mereka sama dengan pakaian kuliah tadi pagi.</p>
<p>Pertandingan berlangsung seru. Hujan yang turun ketika pertandingan berlangsung menambah semaraknya pertandingan. Lapangan licin, tenaga terkuras, sehingga agak sulit untuk mengendalikan bola. Walaupun hanya pertandingan persahabat tidak sedikit gesekan-gesekan kecil yang menyulut emosi. Hingga usai pertandingan kami tetap memimpin dengan skor 2-1.</p>
<p>Aku pulang bersama Tata, Agus, Dede, Herman, Tien, Maya, dan Euis. Tata berjalan di sebelah kananku. Tien dan Maya di sebelah kiriku. Tata nyerocos mengomentari hasil pertandingan. Sejurus kemudian Tata dan Tien sudah ada di depanku.</p>
<p>“Mainnya bagus. Kamu sering ya main bola?” Maya memulai pembicaraan. “Ga juga. Kebetulan lagi main enak,” jawabku. Maya terus mengajak aku bicara. Tanpa sadar langkah kami sudah terjauh dari teman-teman yang lain. Aku buru-buru ambil langkah raksasa. Maya mencoba mengimbangiku.</p>
<p>“Sudah ngobrolnya?” Tien mengedipkan mata pada Maya. Mukanya merah mirip biji saga. Aku baru mengerti. Mengapa kami ditinggalkan berdua. Tien ke belakang, dia berjalan di sampingku. “May! Bolehkan?” Tangannya melingkar di pinggangku. Aku salah tingkah. Hawa panas mulai menjalar ke dalam tubuh. Aku mencoba melepaskan diri. Tapi tak bisa. Langkahku terus berbarengan dengan langkah Tien hingga gerbang kampus. Baru kali ini aku digandeng oleh perempuan. Semua tertawa melihat raut mukaku yang merah padam.</p>
<p><em>Bersambung…</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=71&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/06/maaf-cintaku-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/06/maaf-cintaku-4/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/06/maaf-cintaku-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 08:27:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Lima Budiman membawaku dari terminal Cilembang ke Bandung. Hatiku masih bimbang. Aku tetap merasa bersalah telah meminta kuliah di Bandung. Wajah kedua orang tuaku terus membayangiku. Hamparan sawah yang hijau sepanjang jalur Tasik Bandung tidak sanggup menghiburku. Inilah kali ketiga aku ke Bandung. Seorang diri, berbekal uang lima ratus ribu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=69&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p><strong><em>Bagian Lima</em></strong></p>
<p>Budiman membawaku dari terminal Cilembang ke Bandung. Hatiku masih bimbang. Aku tetap merasa bersalah telah meminta kuliah di Bandung. Wajah kedua orang tuaku terus membayangiku. Hamparan sawah yang hijau sepanjang jalur Tasik Bandung tidak sanggup menghiburku.</p>
<p>Inilah kali ketiga aku ke Bandung. Seorang diri, berbekal uang lima ratus ribu rupiah dan persyaratan administrasi. Tujuanku hanya satu menemukan Nurjaman teman sekolahku dulu. Nurjaman ngontrak di Geger Kalong. Selama UMPTN berlangsung aku tinggal bersamanya. Dia seorang aktivis tulen, jarang pulang ke kontrakannya, Himpunan Mahasiswa (HIMA) menjadi tempat tinggal keduanya.</p>
<p>Angkot Cicaheum-Ledeng tepat berhenti di depan kampus yang akan menjadi tempat kuliahku. Inilah calon kampusku. Lembaga pendidikan yang akan melahirkan calon-calon guru di negeri ini. Isola, bangunan warisan Belanda masih berdiri kokoh. Sebuah kolam dengan air mancur di tengahnya dikelilingi air berwarna hijau bercampur daun-daun kering yang jatuh dari pohon di sekitarnya. Daun-daun kering juga berserakan memenuhi halaman Isola. Sebuah kolam kecil yang kering dengan patung anak kecil di tengahnya menjadi tempat sampah. Sampah plastik, puntung rokok, gelas aqua, dan sampah bekas makanan berbaur di antara kaki-kaki bersepatu yang sedang menikmati sejuknya udara di bawah rimbunnya pohon-pohon.</p>
<p>Setelah melewati terowongan, menyusuri gedung, dan menyebrang jalan, sampailah aku di HIMA tempat Nurjaman berada. Semua mahasiswa baru lagi diplonco seniornya. Untunglah aku bertemu teman Nurjaman yang lebih dulu kukenal. Tanpa banyak bicara dia memanggil Nurjaman. Lalu kami pergi ke sebuah gedung untuk registrasi.</p>
<p>Uang pendaftaran telah kusetor. Aku harus mengisi berbagai lembar formulir, sementara Nurjaman kembali ke habitatnya.</p>
<p>Calon mahasiswa baru hiruk pikuk di depan gedung untuk registrasi. Kebanyakan datang dari Bandung dan daerah di Jawa Barat. Dari luar Jawa Barat juga ada, hanya jumlahnya relatif kecil. Dari dandanan dan logat bicaranya, aku bisa membedakan mana yang asli Bandung dan mana yang luar Bandung. Semuanya berwajah gembira, apalagi yang satu almamater.</p>
<p>Kegembiraan tidak hanya milik para calon mahasiswa saja, tetapi juga dirasakan oleh pedagang asongan alat tulis, penjual makanan dan minuman yang mendapatkan kelebihan penghasilan. Orang tua yang mengantar bangga mendaftarkan anaknya ke perguruan tinggi. Bagiku ini adalah sejarah, Hasan Mustofa, namaku tercatat secara resmi menjadi mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri di Bandung. Di pundakku tergantung harapan kedua orang tuaku.</p>
<p>Registrasi aku lanjutkan ke HIMA Jurusan. Disinilah aku menyaksikan dan merasakan kebodohan yang dilakukan seniorku. Sebagai mahasiswa, yang dijuluki sebagai kaum intelektual muda, tidak seharusnya melakukan tindakan-tindakan yang yang menurutku bodoh. Mahasiswa baru bagai kerbau dicocok hidung. Pindah sini, pindah situ, suruh ini, suruh itu. Mending kalau disuruh baca Al Quran atau dialog. Ini disuruh nyanyi, joget, merayu, <em>push up</em>, berteriak kaya orang gila sambil ditertawain rame-rame. Yang tak kuat mental bisa nangis atau pingsan. Kebiasaan ini telah menjadi budaya yang mengakar kepada setiap angkatan. Dan tidak ada usaha untuk menghentikannya. Alasannya, kegiatan ini hanya untuk menguji mental calon mahasiswa. Dan menurutku itu omong kosong.</p>
<p>Setelah ashar aku baru keluar dari Bumi Siliwangi. Hari itu juga aku pulang ke kota kelahiranku.***</p>
<p>Kota Bandung dikenal dengan Kota Kembang atau <em>Paris Van Java</em>. Aku hanya tahu dari cerita teman-temanku dan buku-buku yang kubaca. Taman Lalu Lintas, Gedung Sate, Kebun Binatang, Cihampelas, Tangkuban Perahu, Museum Pos, dan banyak lagi. Aku sangat ingin mengunjunginya. Tapi tidak sekarang. Mungkin nanti setelah perkuliahan berjalan.</p>
<p>Aku sekarang tinggal di kamar ukuran dua kali empat dengan satu jendela. Sebuah kasur busa tipis dan meja kecil aku dapat dari Bang Ali penghuni sebelumnya. Lemari plastik kupaksakan beli di Sukajadi. Sebagai pengusir sunyi, <em>polytron</em> butut aku bawa dari pamanku.</p>
<p>Kontrakanku berada di belakang terminal Ledeng. Padat, kumuh, dan tidak beraturan. Atap rumah berwarna warni, genting, seng, atau fiber. Warung-warung kecil menambah sempit jalan. Selokan ditutup jadi pos ronda dan warung makan.</p>
<p>Sebuah kontrakan dapat menunjukkan status ekonomi mahasiswa. Bagi yang berduit, kamar kontrakan bisa luas, bersih, dan bebas bocor. Harganya juga lebih tinggi. Untuk mahasiswa seukuranku, cukup bisa numpang tidur dan tidak bocor, itu sudah jauh lebih baik.</p>
<p>Bandung yang kubayangkan tidak seperti yang kubayangkan. Kesenjangan ekonomi begitu tinggi. Di belakang angkuhnya hotel-hotel mewah terdapat rumah-rumah miskin. Jeritan warga miskin digerus kerlap kerlip lampu pesta setiap hotel.</p>
<p>Terminal Ledeng yang kusam, dihujani asap dari knalpot bus dan angkutan kota yang keluar masuk terminal. Pedagang asongan silih berganti dengan pengamen keluar masuk bis kota. Hawa dingin Kota Bandung menjadi kurang segar. Polusi udara mengancam setiap orang yang lalu lalang di sekitar terminal.</p>
<p>Di belakang terminal inilah aku dan mahasiswa lainnya makan. Selain harganya murah, banyak pilihan, rasanya juga cocok dilidah. Menu utamaku telur, tahu, dan tempe. Sebulan sekali pake ayam. Yang penting perutku tidak sering berteriak-teriak terus minta makan.</p>
<p>Bandung memang gudangnya pemusik handal. Berbagai stasiun radio terjepit di setiap <em>frekwensi</em>. Lagu-lagu pop, dangdut, sunda, dan barat terbaru bisa langsung hadir menghampiri telingaku. Satu hal lagi, aku dapat belajar agama islam dari berbagai ustad yang berbeda pendapat, sehingga menambah khazanah pengetahuanku.</p>
<p>Kemacetan yang terjadi Sabtu sore hingga malam di Jalan Setiabudhi menjadi pemandangan yang menarik perhatianku. Berbagai mobil terbaru, buang sampah dari kendaraan, perempuan berbaju seksi, orang pacaran bisa aku saksikan di sini.</p>
<p>Bandung sedikit demi sedikit telah membuat aku jatuh cinta. Perasaan bersalah kepada orang tua semakin mencair menjadi tekad bulat untuk kuliah sungguh-sungguh.</p>
<p><em>Bersambung… </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=69&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/08/06/maaf-cintaku-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAAF CINTAKU</title>
		<link>http://ruslieli.wordpress.com/2009/07/31/maaf-cintaku-3/</link>
		<comments>http://ruslieli.wordpress.com/2009/07/31/maaf-cintaku-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 09:57:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elirusli123456</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruslieli.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eli Rusli Bagian Empat Proyek jembatan telah selesai. Aku berpisah dengan teman-temanku. Mandor proyek sebenarnya mengajakku untuk ikut ke proyek berikutnya. Namun ibuku keberatan. Ibu menyuruh aku ke Jakarta menemani sepupuku yang ditinggal Uwak, kakaknya bapak yang tinggal di Jakarta, pergi berangkat haji ke tanah suci. Sebenarnya aku malas. Walaupun Uwak kaya, aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=67&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Eli Rusli</strong></p>
<p><strong><em>Bagian Empat</em></strong></p>
<p><strong> </strong>Proyek jembatan telah selesai. Aku berpisah dengan teman-temanku. Mandor proyek sebenarnya mengajakku untuk ikut ke proyek berikutnya. Namun ibuku keberatan. Ibu menyuruh aku ke Jakarta menemani sepupuku yang ditinggal Uwak, kakaknya bapak yang tinggal di Jakarta, pergi berangkat haji ke tanah suci.</p>
<p>Sebenarnya aku malas. Walaupun Uwak kaya, aku tidak terlalu dekat dengannya. Namun untuk memenuhi permintaan ibu, aku berangkat juga ke Jakarta.</p>
<p>Kehidupan di Jakarta kontras dengan kehidupanku sehari-hari. Makanan banyak, kalau dikatakan tidak berlebihan, mesin cuci, kulkas, tv besar ada di sini. Namun aku tidak menikmatinya. Aku merasa asing di sini.</p>
<p>Di Jakarta, aku mulai mengenal kehidupan gaya metropolitan. Makanan cepat saji yang hanya aku lihat di iklan televisi, aku bisa menikmatinya. Gadis-gadis tidak malu bergandengan tangan dengan lelaki pujaannya. Aurat diumbar kemana-mana. Ibu-ibu berdandan gaya telenovela. Semuanya tersaji lengkap di tengah keramaian Jakarta.</p>
<p>“Jadi kamu mau kuliah lagi San?” Kang Asep bertanya padaku. “Kalau ada kesempatan, pasti maulah,” jawabku. “Kuliahnya di sini saja. Biar gak <em>kost</em>,” katanya lagi. Aku garuk-garuk kepala. “Dah, lah! Sini aja! Belum pernah ada keluarga dari <em>Abi </em>yang tinggal disini. Kalau dari <em>Umi</em> kan banyak.” Kang Asep mencoba membujukku. “Entarlah gimana nanti,” jawabku.</p>
<p>Hampir sebulan aku di Jakarta. Aku banyak belajar dari Kang Asep. Belajar soal UMPTN bekasnya dia. Sampai cara-cara kuliah. Kang Asep banyak memberikan motivasi padaku. Aku merasa ada teman yang benar-benar memperhatikanku. Semangatku semakin tinggi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.</p>
<p>Aku sempat ditawari kerja oleh Kang Soleh saudara jauhku. Aku hanya minta waktu setelah UMPTN. Jika aku gagal lagi aku akan segera mengabarinya. Kang Soleh menyetujuinya.</p>
<p>Pulang dari Jakarta aku membawa berbagai contoh soal-soal UMPTN. Semuanya kupelajari, termasuk dari kunci jawaban yang ada. Aku belajar sendiri dengan semangat dan kerja keras. Nonton televisi aku kurangi. Dan inilah kunci keberhasilanku. Tanpa harus bimbingan belajar yang menghabiskan uang banyak aku berhasil lulus UMPTN dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.***</p>
<p>Malam itu aku, ibu dan bapak duduk di ruangan tamu. Jam menunjukkan angka delapan lewat sepuluh menit. “Ibu dan Bapak mengijinkan Aa kuliah.” Ibu membuka pembicaraan. “Tapi lusa baru bisa ke Bandung.” “Bapak akan mencari uangnya dulu,” kata bapak. Aku terharu. Kupeluk satu persatu kedua orang tuaku.</p>
<p>Malam itu bintang bertaburan di langit. Bulan tersenyum walau hanya sepotong. Aku tertidur pulas hingga adzan shubuh memanggilku.</p>
<p>Matahari baru seperempat badan. Orang-orang sibuk ke tempat kerja, anak-anak sekolah. Ibu memberiku sebuah amplop putih. “Pergilah ke desa! Berikan surat ini pada Uwakmu!” Tiba-tiba hatiku merasa tidak enak.</p>
<p>Dalam perjalanan ke desa, timbul pertanyaan dalam hatiku. Apa isi surat ini. Buka… Tidak. Buka… Tidak. Kuterawang, tidak kelihatan. Kalau dibuka, berarti aku telah menghianati ibu dan bapak. Akhirnya kuputuskan untuk menunggunya sampai tiba di desa.</p>
<p>“Jadi kamu mau kuliah di Bandung San?” Uwak bertanya. “Ya,” jawabku singkat. “Uwak sudah baca surat dari bapakmu. Kamu tunggu di sini saja!” Uwak pergi meninggalkanku.</p>
<p>Hampir dua jam aku menunggu. Dan tidak tahu, ada apa sebenarnya. Hanya aku yakin sekali, pasti berhubungan dengan nasibku. Uwak datang dengan tersenyum. Sebuah amplop terselip di tangan kanannya. Lalu duduk di depanku.</p>
<p>“Ini uang tiga ratus ribu. Hati-hati!” Amplop putih diserahkan padaku. “Bapakmu minta tolong, agar sebagian sawahnya digadaikan dulu. Tadi Uwak pinjam uang dulu ke Wak Haji.” Aku berusaha menahan diri.</p>
<p>Sekarang aku mengerti apa isi surat itu. Bapak menggadaikan sawahnya demi mendapatkan uang untuk pendaftaran kuliahku. Ya Allah? Mengapa harus seperti ini? Aku tidak akan memaksa kalau ibu dan bapak tidak punya uang, lebih baik aku bekerja saja. Aku sudah cukup merepotkan mereka. “Sudahlah San! Uwak mengerti perasaanmu. Tapi ini demi kebaikan semua. Pulanglah! Bapak ibumu akan ridho kalau kamu sungguh-sungguh berniat ingin kuliah. Uwak hanya bisa mendoakanmu saja.” Aku meneteskan air mata.</p>
<p>Mobil yang kutumpangi terasa cepat. Pohon-pohon berlarian di samping kanan dan kiri. Kaki terasa berat, aku tidak ingin pulang. Aku ingin sekali mengembalikan uang yang kubawa. Aku sudah tidak mau lagi membebani kedua orang tuaku. Aku harus menbatalkan rencana kuliahku di Bandung.</p>
<p>Selepas isya aku dipanggil ibu dan bapak “Besok pergi ke Bandung! Ini uangnya.” “Tidak Bu! Aku tidak mau. Aku sudah cukup menyusahkan ibu dan bapak. Aku malu. Lebih baik aku tidak jadi kuliah!” “Sudahlah A…! Kamu tidak usah memikirkan biaya. Ibu dan Bapak pasti akan menanggung semuanya. Tugasmu belajar dan selesaikan tepat waktu!” Ibu membesarkan hatiku. “Ilmu lebih berharga dibandingkan uang. Dengan ilmu kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan” Ibuku mendadak menjadi seorang penceramah yang kondang. Aku tidak kuasa lagi membendung air mata yang sudah menggumpal. Tangisku tumpah, antara bahagia dan kesedihan.</p>
<p>Malam terasa lama. Pagi yang kunantikan tak kunjung tiba. Mataku tidak bisa terpejam menunggu matahari membangunkan seisi bumi.</p>
<p><em>Bersambung…</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruslieli.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruslieli.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruslieli.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruslieli.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruslieli.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruslieli.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruslieli.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruslieli.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruslieli.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruslieli.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruslieli.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruslieli.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruslieli.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruslieli.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruslieli.wordpress.com&amp;blog=6615433&amp;post=67&amp;subd=ruslieli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruslieli.wordpress.com/2009/07/31/maaf-cintaku-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d3aebfec9ffcf18ba45260a27f1d1b3d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Eli Rusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
